Selasa, 16 November 2010

SEJARAH KOTA YOGYAKARTA



SEJARAH KOTA YOGYAKARTA
 
LAMBANG KOTA YOGYAKARTA
Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 
Februari 1755 yang
ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh
atas nama 
Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : 
Setengah masih 
menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. 
Dalam 
perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah 
Pedalaman 
Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul 
Rachman Sayidin 
Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), 

Pojong, Sukowati,
Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, 
Magetan, Cirebon, 
Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, 
Ngawen, Sela, Kuwu,
Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang 

bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram 
yang ada di dalam kekuasaannya itu
diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta 
(Yogyakarta). Ketetapan ini
diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang 

disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang 
disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh 
Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. 
Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera 
memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.


Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati 

pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. 
Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari 
tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang 
sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru 

sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan 
nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan 
Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah 
menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756 

Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan 
Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan 
Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi 
tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu


Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX 

dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur 
dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 
September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah 
Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi 
bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945.  Dan pada tanggal 30 
Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa 
pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri 
Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan 
Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang 

menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan 
Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan 
Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, 
sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan massih tetap 
berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.


Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi 

Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 
1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi 
wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul 
yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai 
daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.  Daerah 
tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.

Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh 

Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari 
Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas.  Hal itu semakin nyata 
dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok 
Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan 
Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang 

kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi 
Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang.  
DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20
orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-

undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 
tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD 
dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta 
sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 

Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.  Berdasarkan Undang-
undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin 
oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta 
dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh 
ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengankatan bagi Kepala Daerah dan Wakil 
Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliiau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan 
Sri Paduka Paku Alam VIII.  Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah 
Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana 
terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala 
Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan 

pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah 
Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur 
kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan 
bertanggung jawab.  Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta 
diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut denan 
Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala 
Daerahnya.


Dasar Hukum
Ketetapan DPRD Nomor 2 Tahun 1952 tentang Penetapan Lambang Kota Praja
Yogyakarta
Makna Lambang :
  1. Perbandingan ukuran 18 : 25 , untuk memperingati tahun permulaan  perjuangan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta (tahun 1825)
  2. Warna Hitam : Simbol Keabadian
    • Warna Kuning dan Keemasan : Simbol Keluhuran
    • Warna Putih : Simbol Kesucian
    • Warna Merah : Simbol Keberanian
    • Warna Hijau : Simbol Kemakmuran
  3. Mangayu Hayuning Bawono : Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat
  4. Bintang Emas : Cita-cita kesejahteraan yang dapat dicapai dengan usaha dibidang kemakmuran
    •  Padi dan kapas: Jalan yang ditempuh dalam usaha kemakmuran pangan dan sandang
  1. Perisai : Lambang Pertahanan
  2. Tugu : Ciri khas Kota Yogyakarta
  3. Dua sayap : Lambang kekuatan yang harus seimbang
  4. Gunungan : Lambang kebudayaan
    • Beringin Kurung : Lambang Kerakyatan
    • Banteng : Lambang semangat keberanian
    • Keris : Lambang perjuangan
  5. Terdapat dua sengkala
    • Gunaning Keris Anggatra Kota Praja : Tahun 1953 merupakan tahun permulaan pemakaian Lambang Kota Yogyakarta
    • Warna Hasta Samadyaning Kotapraja : Tahun 1884
FLORA DAN FAUNA IDENTITAS KOTA YOGYAKARTA


Dalam rangka menumbuhkan menjadi kebanggaan dan maskot daerah telah ditetapkan 
pohon Kelapa Gading (Cocos Nuciferal vv.Gading) dan Burung Tekukur (Streptoplia 
Chinensis Tigrina) sebagai flora dan fauna identitas Kota Yogyakarta


Keberadaan pohon Kelapa Gading begitu melekat pada kehidupan masyarakat Yogyakarta, 
karena dikenal sebagai tanaman raja serta mempunyai nilai filosofis dan budaya yang 
sangat tinggi, sebagai kelengkapan pada upacara tradisional/religius, mempunyai makna 
simbolis dan berguna sebagai obat tradisional.


Burung tekukur dengan suara merdu dan sosok tubuh yang indah mampu memberikan 
suasana kedamaian bagi yang mendengar, menjadi kesayangan para pangeran dilingkungan 
kraton.  Dengan mendengar suara burung tekukur diharapkan orang akan terikat kepada 
Kota Yogyakarta



Share
|



Khilafah di Indonesia

Selasa, 16 November 2010

SEJARAH KOTA YOGYAKARTA

SEJARAH KOTA YOGYAKARTA
 
LAMBANG KOTA YOGYAKARTA
Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 
Februari 1755 yang
ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh
atas nama 
Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : 
Setengah masih 
menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. 
Dalam 
perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah 
Pedalaman 
Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul 
Rachman Sayidin 
Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), 

Pojong, Sukowati,
Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, 
Magetan, Cirebon, 
Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, 
Ngawen, Sela, Kuwu,
Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang 

bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram 
yang ada di dalam kekuasaannya itu
diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta 
(Yogyakarta). Ketetapan ini
diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang 

disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang 
disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh 
Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. 
Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera 
memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.


Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati 

pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. 
Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari 
tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang 
sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru 

sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan 
nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan 
Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah 
menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756 

Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan 
Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan 
Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi 
tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu


Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX 

dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur 
dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 
September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah 
Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi 
bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945.  Dan pada tanggal 30 
Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa 
pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri 
Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan 
Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang 

menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan 
Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan 
Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, 
sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan massih tetap 
berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.


Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi 

Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 
1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi 
wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul 
yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai 
daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.  Daerah 
tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.

Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh 

Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari 
Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas.  Hal itu semakin nyata 
dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok 
Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan 
Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang 

kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi 
Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang.  
DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20
orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-

undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 
tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD 
dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta 
sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 

Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.  Berdasarkan Undang-
undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin 
oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta 
dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh 
ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengankatan bagi Kepala Daerah dan Wakil 
Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliiau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan 
Sri Paduka Paku Alam VIII.  Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah 
Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana 
terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala 
Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan 

pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah 
Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur 
kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan 
bertanggung jawab.  Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta 
diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut denan 
Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala 
Daerahnya.


Dasar Hukum
Ketetapan DPRD Nomor 2 Tahun 1952 tentang Penetapan Lambang Kota Praja
Yogyakarta
Makna Lambang :
  1. Perbandingan ukuran 18 : 25 , untuk memperingati tahun permulaan  perjuangan Pangeran Diponegoro di Yogyakarta (tahun 1825)
  2. Warna Hitam : Simbol Keabadian
    • Warna Kuning dan Keemasan : Simbol Keluhuran
    • Warna Putih : Simbol Kesucian
    • Warna Merah : Simbol Keberanian
    • Warna Hijau : Simbol Kemakmuran
  3. Mangayu Hayuning Bawono : Cita-cita untuk menyempurnakan masyarakat
  4. Bintang Emas : Cita-cita kesejahteraan yang dapat dicapai dengan usaha dibidang kemakmuran
    •  Padi dan kapas: Jalan yang ditempuh dalam usaha kemakmuran pangan dan sandang
  1. Perisai : Lambang Pertahanan
  2. Tugu : Ciri khas Kota Yogyakarta
  3. Dua sayap : Lambang kekuatan yang harus seimbang
  4. Gunungan : Lambang kebudayaan
    • Beringin Kurung : Lambang Kerakyatan
    • Banteng : Lambang semangat keberanian
    • Keris : Lambang perjuangan
  5. Terdapat dua sengkala
    • Gunaning Keris Anggatra Kota Praja : Tahun 1953 merupakan tahun permulaan pemakaian Lambang Kota Yogyakarta
    • Warna Hasta Samadyaning Kotapraja : Tahun 1884
FLORA DAN FAUNA IDENTITAS KOTA YOGYAKARTA


Dalam rangka menumbuhkan menjadi kebanggaan dan maskot daerah telah ditetapkan 
pohon Kelapa Gading (Cocos Nuciferal vv.Gading) dan Burung Tekukur (Streptoplia 
Chinensis Tigrina) sebagai flora dan fauna identitas Kota Yogyakarta


Keberadaan pohon Kelapa Gading begitu melekat pada kehidupan masyarakat Yogyakarta, 
karena dikenal sebagai tanaman raja serta mempunyai nilai filosofis dan budaya yang 
sangat tinggi, sebagai kelengkapan pada upacara tradisional/religius, mempunyai makna 
simbolis dan berguna sebagai obat tradisional.


Burung tekukur dengan suara merdu dan sosok tubuh yang indah mampu memberikan 
suasana kedamaian bagi yang mendengar, menjadi kesayangan para pangeran dilingkungan 
kraton.  Dengan mendengar suara burung tekukur diharapkan orang akan terikat kepada 
Kota Yogyakarta.
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoHjnRwmxpSnApJdTTkZ6x8G4cYAjRJsNvDJOdky9KCt2POMFoVNc-eAjXUSjF_IBlhZRZOEBw0lyDasqBjNVqCnm9C9AZgFkaRS_ygYh3oshCCwHk8GedxvYB-u56lmG1fmdoZFuzomE/s200/Tmagazine0318f.jpg



Share
|



Sabtu, 13 November 2010

Mengkaji Ulang Humanisme

Mengkaji Ulang Humanisme

”Humanisme" dipandang sebagai sebuah gagasan positif oleh kebanyakan orang. Humanisme mengingatkan kita akan gagasan-gagasan seperti kecintaan akan peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan. Tetapi, makna filosofis dari humanisme jauh lebih signifikan: humanisme adalah cara berpikir bahwa mengemukakan konsep peri kemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan. Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Kamus umum mendefinisikan humanisme sebagai "sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun".33

Dewasa ini, humanisme telah menjadi nama lain bagi ateisme. Salah satu contohnya adalah antusiasme terhadap Darwin yang khas pada majalah Amerika, The Humanist.
Namun, definisi paling jelas tentang humanisme dikemukakan oleh pendukungnya. Salah seorang juru bicara humanisme paling terkemuka di masa kini adalah Corliss Lamont. Dalam bukunya, Philosophy of Humanism, ia menulis:
(Singkatnya) humanisme meyakini bahwa alam… merupakan jumlah total dari realitas, bahwa materi-energi dan bukan pikiran yang merupakan bahan pembentuk alam semesta, dan bahwa entitas supernatural sama sekali tidak ada. Ketidaknyataan supernatural ini pada tingkat manusia berarti bahwa manusia tidak memiliki jiwa supernatural dan abadi; dan pada tingkat alam semesta sebagai keseluruhan, bahwa kosmos kita tidak memiliki Tuhan yang supernatural dan abadi. 34
Sebagaimana dapat kita lihat, humanisme nyaris identik dengan ateisme, dan fakta ini dengan bebas diakui oleh kaum humanis. Terdapat dua manifesto penting yang diterbitkan oleh kaum humanis di abad yang lalu. Yang pertama dipublikasikan tahun 1933, dan ditandatangani oleh sebagian orang penting masa itu. Empat puluh tahun kemudian, di tahun 1973, manifesto humanis kedua dipublikasikan, menegaskan yang pertama, tetapi berisi beberapa tambahan yang berhubungan dengan berbagai perkembangan yang terjadi dalam pada itu. Ribuan pemikir, ilmuwan, penulis, dan praktisi media menandatangani manifesto kedua, yang didukung oleh Asosiasi Humanis Amerika yang masih sangat aktif.
Jika kita pelajari manifesto-manifesto itu, kita menemukan satu pondasi dasar pada masing-masingnya: dogma ateis bahwa alam semesta dan manusia tidak diciptakan tetapi ada secara bebas, bahwa manusia tidak bertanggung jawab kepada otoritas lain apa pun selain dirinya, dan bahwa kepercayaan kepada Tuhan menghambat perkembangan pribadi dan masyarakat. Misalnya, enam pasal pertama dari Manifesto Humanis adalah sebagai berikut:
Pertama: Humanis religius memandang alam semesta ada dengan sendirinya dan tidak diciptakan.
Kedua: Humanisme percaya bahwa manusia adalah bagian dari alam dan bahwa dia muncul sebagai hasil dari proses yang berkelanjutan.
Ketiga: Dengan memegang pandangan hidup organik, humanis menemukan bahwa dualisme tradisional tentang pikiran dan jasad harus ditolak.
Keempat: Humanisme mengakui bahwa budaya religius dan peradaban manusia, sebagaimana digambarkan dengan jelas oleh antropologi dan sejarah, merupakan produk dari suatu perkembangan bertahap karena interaksinya dengan lingkungan alam dan warisan sosialnya. Individu yang lahir di dalam suatu budaya tertentu sebagian besar dibentuk oleh budaya tersebut.
Kelima: Humanisme menyatakan bahwa sifat alam semesta digambarkan oleh sains modern membuat jaminan supernatural atau kosmik apa pun bagi nilai-nilai manusia tidak dapat diterima…
Keenam: Kita yakin bahwa waktu telah berlalu bagi teisme, deisme, modernisme, dan beberapa macam “pemikiran baru”. 35
Pada pasal-pasal di atas, kita melihat ekspresi dari sebuah filsafat umum yang mewujudkan dirinya di bawah nama materialisme, Darwinisme, ateisme, dan agnotisisme. Pada pasal pertama, dogma materialis tentang keberadaan abadi alam semesta dikemukakan. Pasal kedua menyatakan, sebagaimana dinyatakan teori evolusi, bahwa manusia tidak diciptakan. Pasal ketiga menyangkal keberadaan jiwa manusia dengan mengklaim bahwa manusia terbentuk dari materi. Pasal keempat mengajukan sebuah “evolusi budaya” dan menyangkal keberadaan sifat manusia yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan (sifat istimewa manusia yang diberikan pada penciptaan). Pasal kelima menolak kekuasaan Tuhan atas alam semesta dan manusia, dan yang keenam menyatakan bahwa telah tiba waktunya untuk menolak "teisme", yakni kepercayaan pada Tuhan.
Akan teramati bahwa klaim-klaim ini adalah gagasan stereotip, khas dari kalangan yang memusuhi agama sejati. Alasannya adalah bahwa humanisme adalah pondasi utama dari perasaan antiagama. Ini karena humanisme adalah ekspresi dari “manusia merasa bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)”, yang merupakan dasar utama bagi pengingkaran terhadap Tuhan, sepanjang sejarah. Dalam salah satu ayat Al Quran, Allah berfirman:
Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim),
kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,
lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
Bukankah (Allah) yang berbuat demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?
(QS. Al Qiyaamah, 75: 36-40)
Allah berfirman bahwa manusia tidak akan “dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)”, dan segera mengingatkan bahwa mereka adalah ciptaan-Nya. Sebab, begitu menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan Allah, seseorang akan memahami bahwa dia bukannya “tanpa pertanggungjawaban”, tetapi bertanggung jawab kepada Allah.
Karena inilah, klaim bahwa manusia tidak diciptakan telah menjadi doktrin dasar filsafat humanis. Dua pasal pertama dari Manifesto Humanis pertama mengungkapkan doktrin ini. Lebih jauh lagi, kaum humanis berpendapat bahwa sains mendukung klaim ini.
Namun, mereka keliru. Sejak Manifesto Humanis pertama dipublikasikan, kedua premis yang dikemukakan kaum humanis sebagai fakta ilmiah tentang gagasan bahwa alam semesta abadi dan teori evolusi, telah runtuh:
1. Gagasan bahwa alam semesta adalah abadi digugurkan oleh serangkaian penemuan astronomis yang dilakukan ketika Manifesto Humanis pertama tengah ditulis. Penemuan seperti fakta bahwa alam semesta tengah berkembang, dari radiasi latar kosmis dan kalkulasi rasio hidrogen atas helium, telah menunjukkan bahwa alam semesta memiliki permulaan, dan muncul dari ketiadaan sekitar 15-17 miliar tahun yang lalu dalam sebuah ledakan yang dinamai "Dentuman Besar". Walaupun mereka yang mendukung filsafat humanis dan materialis tidak rela menerima teori Dentuman Besar, mereka akhirnya dikalahkan. Sebagai hasil dari bukti ilmiah yang telah diketahui, komunitas ilmiah akhirnya menerima teori Dentuman Besar, yakni bahwa alam semesta memiliki permulaan, dan karenanya kaum humanisme tidak dapat membantah lagi. Demikianlah pemikir ateis Anthony Flew terpaksa mengakui:
… karenanya saya mulai mengakui bahwa ateis Stratonisian telah dipermalukan oleh konsensus kosmologis kontemporer. Karena tampaknya para ahli kosmologi memberikan bukti ilmiah tentang apa yang oleh menurut St. Thomas tak dapat dibuktikan secara filosofis; yakni bahwa alam semesta memiliki permulaan….36
2. Teori evolusi, pembenaran ilmiah terpenting di balik Manifesto Humanis pertama, mulai kehilangan pijakan satu dekade setelah Manifesto itu ditulis. Saat ini diketahui bahwa skenario yang dikemukakan sebagai asal usul kehidupan oleh kaum evolusionis ateis (dan tak diragukan, humanis), seperti oleh A.I. Oparin dan J.B.S. Haldane pada tahun 1930, tidak memiliki keabsahan ilmiah; makhluk hidup tidak dapat diturunkan secara spontan dari materi tak-hidup sebagaimana diajukan oleh skenario ini. Catatan fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup tidak berkembang melalui sebuah proses perubahan kecil yang kumulatif, tetapi muncul secara tiba-tiba dengan berbagai karakteristik yang berbeda, dan fakta ini telah diterima oleh para ahli paleontologi evolusionis sendiri sejak 1970-an. Biologi modern telah menunjukkan bahwa makhluk hidup bukanlah hasil dari kebetulan dan hukum alam, tetapi bahwa pada setiap sistem kompleks dari organisme yang menunjukkan sebuah perancangan cerdas terdapat bukti bagi penciptaan. (Untuk lebih detail baca Harun Yahya, Darwinisme Terbantahkan: Bagaimana Teori Evolusi Runtuh di Hadapan Ilmu Pengetahuan Modern)
Lebih-lebih lagi, klaim keliru bahwa keyakinan religius merupakan faktor yang menghambat manusia dari perkembangan dan membawanya kepada konflik telah digugurkan oleh pengalaman sejarah. Kaum humanis telah mengklaim bahwa penyingkiran kepercayaan religius akan membuat manusia bahagia dan tenteram, namun, yang terbukti justru sebaliknya. Enam tahun setelah Manifesto Humanis dipublikasikan, Perang Dunia II meletus, sebuah catatan malapetaka yang dibawa ke dunia oleh ideologi fasis yang sekuler. Ideologi humanis lainnya, komunisme, mendatangkan kekejaman yang tak terperi, pertama terhadap bangsa Uni Soviet, kemudian Cina, Kamboja, Vietnam, Korea Utara, Kuba, dan berbagai negara Afrika dan Amerika Latin. Sebanyak 120 juta manusia terbunuh oleh rezim atau organisasi komunis. Juga telah jelas bahwa merek humanisme Barat (sistem kapitalis) tidak berhasil membawa kedamaian dan kebahagiaan kepada masyarakat mereka sendiri ataupun kepada wilayah-wilayah lain di dunia.
Keruntuhan argumen humanisme tentang agama juga telah tampak pada lapangan psikologi. Mitos Freudian, sebuah batu pijakan dari dogma ateis semenjak awal abad kedua puluh, telah digugurkan oleh data empiris. Patrick Glynn, dari Universitas George Washington, menerangkan fakta ini di dalam bukunya yang berjudul God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World:
Seperempat abad terakhir dari abad kedua puluh tidaklah ramah terhadap pandangan psikoanalitik. Yang paling signifikan adalah ditemukannya bahwa pandangan Freud tentang agama (belum lagi sekumpulan besar masalah lain) adalah benar-benar keliru. Yang cukup ironis, riset ilmiah dalam psikologi selama dua puluh lima tahun terakhir telah menunjukkan bahwa, jauh dari sebagai penyakit saraf atau sumber dari neuroses sebagaimana dinyatakan Freud dan murid-muridnya, keyakinan agama adalah salah satu kolerasi yang paling konsisten dari kesehatan mental dan kebahagiaan yang menyeluruh. Kajian demi kajian telah menunjukkan hubungan kuat antara keyakinan dan praktik agama di satu sisi, dan tingkah laku yang sehat sehubungan dengan masalah-masalah seperti bunuh diri, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, perceraian, depresi, bahkan mungkin mengejutkan, tingkat kepuasan seksual di dalam perkawinan, di sisi lain. 37
Singkatnya, apa yang dianggap sebagai pembenaran ilmiah di balik humanisme telah terbukti tidak sahih dan janji-janjinya gagal. Namun demikian, kaum humanis tidak meninggalkan filsafat mereka, tetapi malahan mencoba untuk menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia melalui metode propaganda massa. Khususnya pada periode pascaperang terjadilah propaganda humanis yang intens di lapangan sains, filsafat, musik, kesusasteraan, seni, dan film. Pesan menarik namun kosong yang diciptakan oleh para ideolog humanis telah disampaikan kepada massa secara bertubi-tubi. Lagu "Imagine" karya John Lennon, penyanyi solo dari grup musik paling terkenal sepanjang masa, the Beatles, adalah contohnya:

John Lennon, dengan liriknya, "Bayangkan tiada agama," merupakan salah satu propagandis terdepan dari filsafat humanis di abad ke dua puluh.
Bayangkan tiada surga

Mudah jika kau coba

Tiada neraka di bawah kita

Di atas kita hanya angkasa

Bayangkan semua manusia

Hidup untuk hari ini saja...

Bayangkan tiada negara

Tak sukar untuk dilakukan

Tak perlu membunuh atau terbunuh

Dan juga tiada agama…

Mungkin kau sebut aku pemimpi

Tetapi aku bukan satu-satunya

Kuharap suatu hari kau bergabung dengan kami

Dan dunia akan menjadi satu
Lagu ini terpilih sebagai "lagu abad ini" dalam beberapa jajak pendapat yang diselenggarakan di tahun 1999. Ini merupakan indikasi paling tepat tentang perasaan sentimental yang digunakan untuk menyampaikan humanisme kepada massa, karena kurangnya landasan ilmiah atau rasional humanisme. Humanisme tidak dapat menghasilkan keberatan rasional terhadap agama ataupun kebenaran yang diajarkannya, tetapi berusaha menggunakan metode sugestif semacam ini.
Ketika janji-janji Manifesto Humanis I di tahun 1933 terbukti gagal, empat puluh tahun kemudian para humanis mengajukan konsep kedua. Pada awal teks ini ada upaya untuk menjelaskan mengapa janji-janji pertama tidak membuahkan hasil. Walaupun ada fakta bahwa penjelasan ini sangat lemah, ini menunjukkan keterikatan abadi humanisme terhadap filsafat ateis mereka.
Karakteristik paling jelas dari manifesto tersebut adalah mempertahankan garis antiagama pada manifesto tahun 1933:
Sebagaimana di tahun 1933, kaum humanis tetap memercayai bahwa teisme tradisional adalah keimanan yang tak terbukti dan sudah ketinggalan zaman, khususnya keimanan akan Tuhan yang mendengarkan doa, yang dianggap hidup dan memerhatikan manusia, mendengar dan memahami, serta sanggup mengabulkan doa-doa mereka…. Kami percaya… bahwa agama-agama otoriter atau dogmatik yang tradisional, yang menempatkan wahyu, Tuhan, ritus, atau kredo di atas kebutuhan dan pengalaman manusia merugikan spesies manusia…. Sebagai orang yang tidak bertuhan, kami mengawali dengan manusia bukannya Tuhan, alam bukannya ketuhanan. 38
Ini adalah penjelasan yang sangat dangkal. Untuk memahami agama, pertama seseorang membutuhkan kecerdasan dan pemahaman agar mampu menangkap gagasan-gagasan yang dalam. Ia mesti didekati dengan tulus dan tanpa prasangka. Alih-alih, humanisme tidak lebih dari upaya dari sekumpulan orang, yang sejak awal adalah ateis dan antiagama yang bernafsu, untuk menggambarkan prasangka ini masuk akal.

Bertolak belakang dari janji-janji filsafat humanis, ateisme hanya membawa perang, konflik, kekejaman, dan penderitaan bagi dunia.
Namun, upaya kaum humanis untuk menggambarkan keimanan kepada Tuhan dan agama-agama Monoteistik sebagai kredo yang tidak berdasar dan ketinggalan zaman sebenarnya bukan hal baru; hanya memperbarui sebuah klaim berusia ribuan tahun dari mereka yang mengingkari Tuhan. Di dalam Al Quran, Allah menjelaskan argumen seumur dunia yang dikemukakan oleh orang-orang kafir:
Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.
Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Dongeng-dongengan orang-orang dahulu. (QS. An-Nahl, 16: 22-24)
Ayat ini mengungkapkan bahwa penyebab sebenarnya dari penolakan orang-orang kafir terhadap agama adalah kesombongan yang tersembunyi di dalam hati mereka. Filsafat yang disebut humanisme adalah tampak lahiriah belaka dari pengingkaran akan Tuhan di zaman ini. Dengan kata lain, humanisme bukanlah cara berpikir yang baru, sebagaimana mereka yang mendukung klaimnya; ia sudah seumur dunia ini, pandangan dunia yang kuno yang umum pada mereka yang mengingkari Tuhan karena kesombongan.
Jika kita mencermati perkembangan humanisme di dalam sejarah Eropa, kita akan menemukan banyak bukti nyata bagi pernyataan ini.


Share
|




Kamis, 04 November 2010

Takut Ditangkap Menteri Zionis Batal ke Inggris

Bersama Amerika dan Prancis, Inggris adalah sponsor utama pendiri negara Zionis yang merampok dan menjajah tanah Palestina

Hidayatullah.com--Seorang menteri kabinet penjajah Zionis, Dan Meridor, mengurungkan niatnya ke Inggris karena diberitahu kemungkinan akan ditangkap karena keterlibatannya dalam penyerangan tentara Zionis terhadap Freedom Flotilla 31 Mei lalu. Demikian kantor berita International Middle East Media Center (IMEMC) melaporkan Senin, 1 November.

Menteri Intelijen dan Energi Atom ‘Israel’ Dan Meridor diberitahu Kementerian Luar Negeri Inggris bahwa dia mungkin ditangkap setibanya di Inggris karena tuduhan kejahatan perang.

Meridor, yang direncanakan bicara dalam sebuah konferensi Britain and Israel Research Centre, sebuah lembaga pro-Zionis, langsung membatalkan rencana perjalanannya itu.

Meridor adalah satu dari sekian politisi dan tokoh Zionis yang akhir-akhir ini menghindari Inggris karena kemungkinan harus menghadapi gelombang gugatan hukum berkaitan dengan pembajakan dan penyerangan tentara-tentara Zionis terhadap Freedom Flotilla. Tokoh Zionis lainnya, bekas menteri luar negeri Tzipi Livni, juga membatalkan kunjungannya sesudah diperingatkan kemungkinan akan ditangkap.

IMEMC melaporkan, Meridor dan tujuh menteri lainnya hadir dalam rapat dengan perdana menteri penjajah Zionis, Benjamin Netanyahu, beberapa hari sebelum 31 Mei dan mendiskusikan rencana menghadapi masuknya Freedom Flotilla ke Gaza.

Isi pertemuan itu secara persis tidak diketahui karena pemerintahan penjajah Zionis menolak mengumumkan transkrip pembicaraan di dalamnya, namun diyakini bahwa rapat itu juga mendiskusikan kemungkinan serangan militer atas kafilah kemanusiaan itu.

Pemerintah Zionis juga menolak ikut dalam investigasi internasional terhadap penyerangan pasukan komandonya yang menewaskan 9 orang relawan Turki dan melukai lebih dari 50 orang relawan lainnya termasuk dua orang relawan Indonesia, Okvianto Emil Baharudin dan Surya Fachrizal.

Demikian pula, sampai sekarang Zionis masih menolak mengembalikan dan membuka isi ratusan laptop, komputer, kamera, video dan rekorder milik sekitar 700 relawan Freedom Flotilla yang mereka rampas pada saat penyerangan maut itu.

Penjajah Zionis itu hanya berani me-release beberapa potongan rekaman video yang sudah mereka ubah dan edit, kepada media massa.

Seorang anggota kabinet Inggris menjanjikan akan “mengoreksi” undang-undang yang memungkinkan para penjahat Zionis itu ditangkap di Inggris. AP mengutip Menteri Luar Negeri William Hague yang menyatakan, “Kita tidak bisa menerima situasi di mana para politisi ‘Israel’ merasa tidak bisa mengunjungi negeri ini.”

Bersama Amerika Serikat dan Prancis, Inggris adalah sponsor utama pendiri negara Zionis yang merampok dan menjajah tanah Palestina. Senjata-senjata buatan Inggris adalah amunisi utama yang digunakan kelompok-kelompok teroris Yahudi – di antaranya Hagana dan Igun – untuk membunuh dan mengusir warga Palestina menjelang didirikannya negara penjajah Zionis pada 1948.

Sejak itu, Inggris menjadi salah satu negara yang ikut mem-veto resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan menjatuhkan sanksi kepada “Israel” karena berbagai kejahatannya.

Dewasa ini, London menjadi salah satu pusat gerakan rakyat melawan penjajahan Zionis atas Palestina. Sejumlah konvoi kemanusiaan, termasuk Viva Palestina dan Road to Hope, berangkat menuju Gaza dan Palestina dari London. [oh/SA/hidayatullah.com]
 


Share
|





Jumat, 08 Oktober 2010

Pasang Surut Islam di China

Sebagian kaum muslimin memandang orang-orang China sebagai komunitas yang tak ada kaitan  dengan Islam. Fakta sejarah menunjukkan sebaliknya
Oleh: Alwi Alatas*

MASYARAKAT China di seluruh dunia baru saja merayakan tahun baru mereka. Lampion-lampion berwarna merah dan peragaan barongsai tampak di mana-mana dan mungkin juga ikut dinikmati oleh masyarakat Indonesia secara umum. Beberapa aspek kebudayaan China kini sudah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia, tapi rupanya masih ada jurang pemisah yang dalam di antara komunitas China dengan Masyarakat Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam. Kedua belah pihak sehari-harinya melakukan transaksi sosial dan ekonomi, tetapi sebuah Tembok Besar yang tak terlihat masih memisahkan kedua komunitas ini.

Komunitas China banyak yang sudah hidup sekian generasi di nusantara, sebagian mereka bahkan berbahasa ibu dan berdialek sama dengan masyarakat lokal tempat mereka tinggal. Tetapi alienasi di antara kedua komunitas masih saja terjadi, alienasi yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi ketegangan sosial yang serius. Memang sulit untuk dipungkiri, masih ada kesenjangan budaya, kesenjangan ekonomi, dan juga kesenjangan keyakinan yang lebar di antara masyarakat China dan Muslim di Indonesia; kesenjangan yang seolah tak bisa dihapuskan.

Sebagian besar kaum Muslimin mungkin selamanya memandang orang-orang China sebagai komunitas yang tak ada kait mengait dengan Islam, dan barangkali nyaris mustahil untuk menerima Islam. Fakta sejarah menunjukkan sebaliknya. Pada kenyataannya Islam memiliki sejarah yang panjang di negeri tirai bambu itu. Jumlah kaum Muslimin di China sendiri bukannya sedikit, walaupun kecil dalam persentasenya. Jumlah mereka kurang lebih sama dengan, atau malah lebih banyak dari, beberapa negeri Muslim di Timur Tengah yang hampir seluruh penduduknya beragama Islam. Sensus tahun 1990 menyebutkan bahwa jumlah kaum Muslimin di China mencapai 17,5 juta, sementara beberapa sumber Muslim memperkirakan jumlahnya jauh lebih besar dari itu, barangkali antara 30-50 juta orang.1 Ada interaksi dan proses sejarah yang panjang antara masyarakat China dan Islam yang memungkinkan munculnya angka statistik di atas. Melalui tulisan ini kita akan melihat pasang surut sejarah Islam di China.

Sejak sebelum era Islam sudah terjadi hubungan perdagangan antara dunia Arab dan China. Jalur perdagangan ini ada yang melewati laut dan ada yang melewati darat (jalur sutera). Beberapa pedagang Arab disebut-sebut sudah ada yang menetap di beberapa kota bandar dagang di negeri China, seperti Kanton, Chang Chow, dan Chuan Chow. Walaupun ada yang berpendapat Islam sudah masuk ke Kanton sejak zaman Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tetapi hubungan resmi antara pemerintah Islam dan China terjadi pada masa Khalifah Utsman ibn Affan radhiyallahu ’anhu yang mengirim delegasi pada kaisar Dinasti Tang (618-905). Hal ini tercatat dalam sejarah resmi (Annals) Dinasti Tang.2  

Sejak itu terjadi hubungan diplomatik yang baik antara kekhalifahan Islam dan Dinasti Tang. Catatan resmi dinasti tersebut menyebutkan adanya 37 kali perutusan diplomatik di antara kedua belah pihak. Salah satu kaisar China yang terguling karena pemberontakan pada tahun 755 M bahkan pernah mendapat bantuan militer dari pasukan muslim yang dikirim dari Asia Tengah sehingga dinasti tersebut berhasil mendapatkan kembali kedaulatannya. Sebagai balasannya, sang kaisar mengizinkan pasukan muslim yang telah membantunya itu untuk tinggal di salah satu distrik di ibukota Dinasti Tang dan membolehkan mereka melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan China.3

Di akhir masa pemerintahan Dinasti Tang tercatat adanya 120.000 orang asing menetap di China. 80 persen dari jumlah tersebut adalah orang-orang Arab, selebihnya orang Persia, Nasrani, dan Yahudi.4 Orang-orang Arab muslim yang menetap di China pada abad ke-8 telah memperoleh hak khusus untuk mengatur urusan serta memilih pemimpin di antara mereka sendiri. Hal ini menunjukkan adanya hubungan baik serta kepercayaan pemerintah China kepada komunitas muslim yang tinggal di sana. Mobilitas yang dinamis di antara dunia Islam dan Tiongkok telah memungkinkan para ahli geografi muslim mencatat keadaan geografis dan kebudayaan China dengan baik pada masa yang relatif dini, seperti yang bisa didapati pada sebuah kitab anonim berjudul Silsilat al-Tawarikh yang mungkin disusun pada paruh terakhir abad ke-9 dan diedit oleh Abu Zaid al-Sirafi dan kemudian dikutip oleh al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya.5

Pada masa-masa berikutnya, eksistensi Islam di China terus berlanjut, malah semakin baik. Ketika China dikuasai oleh Mongol dan terbentuk Dinasti Yuan (1279-1368 M), pengaruh Islam di Tiongkok semakin kokoh. Banyak muslim Arab atau Persia yang diberdayakan dalam pemerintahan dan militer China. Beberapa di antaranya bahkan memegang posisi yang strategis, seperti Saidian Chi (Say Dian Chih/ Sayyid Shini/ Sayyid Syamsuddin) yang menjadi Gubernur di Yunnan. Sebuah pribahasa China sampai-sampai menyebutkan ”Hui-Hui (muslim) tersebar luas di seluruh penjuru China pada masa Dinasti Yuan.”6 Pada masa ini kaum Muslimin bahkan dipanggil dengan sebutan Da’shman yang bermakna ’orang terpelajar,’ di samping sebutan Mu Su Lu Man dan Hui-Hui.7  

Keberadaan Islam di China mencapai puncaknya pada masa Dinasti Ming (1368-1644) yang menggantikan Dinasti Yuan. Ibrahim Tien Ying Ma menyebutkan bahwa istri kaisar pertama Dinasti Ming adalah seorang muslimah yang dikenal sebagai Ratu Ma (Ma menurutnya merupakan nama keluarga muslim China yang berasal dari kata ’Muhammad’). Empat dari enam panglima yang mendukung proses revolusi yang melahirkan Dinasti Ming juga merupakan panglima-panglima muslim. Ia juga berargumen bahwa kaisar pertama Dinasti Ming, Chu Yuan Chang, dan kaisar-kaisar Ming berikutnya menganut agama Islam, walaupun mereka tidak menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.8 Yang jelas, masyarakat China mencapai puncak kejayaannya pada masa dinasti ini dan pada masa ini pula Islam mencapai puncak pengaruhnya di negeri tersebut. Admiral Cheng Ho pun menjalankan misi diplomasinya yang sangat menonjol ke Timur Tengah dan Asia Tenggara pada awal pemerintahan Dinasti Ming.

Islam mulai mengalami kemunduran setelah Dinasti Ming digantikan oleh Dinasti Qing/ Manchu (1644-1911). Dinasti terakhir di China ini sikapnya kurang bersahabat terhadap kaum muslimin dan kebijakannya yang merugikan juga telah mendorong terjadinya banyak permberontakan yang dilakukan oleh masyarakat muslim di China. Pemberontakan-pemberontakan tersebut gagal dan ditindas dengan sangat keras oleh rezim Manchu. Lebih dari 2 juta Muslim diperkirakan mati terbunuh pada pertengahan abad ke-19 dan selebihnya dimarjinalkan.9

Ketika dinasti ini jatuh oleh gerakan demokrasi dan republikan yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, kaum Muslimin China merasakan keadaan yang lebih baik dan ikut memberikan kontribusi yang cukup penting. Namun, ketika komunisme berkuasa di China sejak tahun 1950, mereka kembali mengalami kemunduran dan mendapat tekanan yang luar biasa. Masjid-masjid dan para imamnya dihancurkan dan disingkirkan oleh pemerintah komunis pada masa Reformasi Keagamaan (1958) dan Revolusi Kebudayaan (1966-1976).

Liu Baojun memberi contoh bahwa di provinsi Qinghai setelah tahun 1958 hanya tersisa 8 masjid, padahal sebelumnya ada 931 masjid. Jumlah imam dan staf keagamaan di masjid-masjid pun tinggal 12 orang setelah tahun 1958, dari sebelumnya yang berjumlah 5940 orang. Pada masa Revolusi Kebudayaan, masjid dan para imam di provinsi tersebut sama sekali tidak tersisa lagi. Pelaksanaan kewajiban Islam seperti shalat lima waktu dan pergi haji tidak diizinkan. Yang terakhir ini menyebabkan muslim China mengalami keterputusan hubungan dengan negeri-negeri Muslim lainnya dan menjadikan generasi muda mereka mengalami kesenjangan dalam pemahaman Islam. Namun sejak masa pemerintahan Deng Xiaoping, keadaan muslim di China menjadi lebih baik. Keyakinan mereka serta kebebasan dalam menjalankan kewajiban keagamaan dilindungi oleh undang-undang.10 

Ketegangan antara muslim dengan pemerintah komunis China memang masih terjadi pada waktu-waktu tertentu, seperti yang berlaku di wilayah Xinjiang belum lama ini. Namun itu bukan berarti kaum Muslimin sama sekali tidak memiliki peluang untuk berkembang dan memajukan diri pada masa-masa yang akan datang. Islam telah hadir sejak awal keberadaannya di China dan telah menjadi bagian integral serta memberikan kontribusi yang sangat penting dalam perjalanan sejarah bangsa tersebut. Walaupun belakangan mendapat tekanan luar biasa dari rezim yang berkuasa, tetapi Islam bukan hanya masih eksis di China, tetapi juga masih memiliki jumlah penganut yang sangat besar. Sementara agama Yahudi dan Kristen Nestorian yang lebih dulu masuk ke China telah habis tak bersisa.

Kenyataan ini juga rupanya yang mendorong ketertarikan Isaac Mason, seorang misionaris di China pada awal abad ke-20, untuk menerjemahkan sebuah karya biografi tentang Nabi Muhammad yang ditulis oleh seorang ilmuwan Muslim China bernama Liu Chai-Lien atau Liu Chih. Dalam pengantarnya Mason menulis, ”Nestorianisme menghilang bak air yang merembes ke dalam pasir, meninggalkan tak satu pun pengikut di negeri ini; dan hal yang sama juga secara praktis berlaku pada komunitas Yahudi masa lalu. Apa, kemudian, dinamika dalam agama ini (Islam, pen.) yang secara tegar menolak untuk terserap oleh lingkungannya, dan secara gigih membanggakan superioritasnya terhadap seluruh sistem lainnya? Sementara sepenuhnya menyadari, dan mengakui sebab-sebab lainnya, saya percaya bahwa keperibadian sang Nabi (Muhammad, pen.), sebagaimana yang dipahami dan dipercayai oleh para pengikutnya, telah menjadi faktor yang sangat kuat dalam memelihara agama Islam.”11
Tanggung jawab terhadap perkembangan Islam di negeri tirai bambu itu tentunya bukan hanya berada di pundak masyarakat muslim China sendiri, tetapi juga masyarakat muslim di negeri-negeri lainnya, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, ketimbang melihat komunitas China di tanah air sebagai sosok-sosok yang asing, tentu akan lebih baik jika kaum muslimin Indonesia memulai interaksi yang lebih terbuka dan sungguh-sungguh dengan mereka. Tidak ada salahnya belajar dari masyarakat China, karena ada banyak hal positif dari karakter dan kebiasaan mereka yang bisa diambil oleh kaum muslimin. Dan walaupun tidak mudah, alangkah baiknya jika kaum muslimin dapat memperkenalkan Islam secara lebih tepat kepada mereka. Kalau masyarakat Barat yang memiliki sejarah konflik yang cukup panjang dengan dunia Islam pada hari ini banyak yang terdorong untuk mempelajari dan masuk Islam, mengapa masyarakat China yang tidak memiliki sejarah permusuhan dengan dunia Islam harus dianggap lebih sulit untuk merangkul Islam?

Tapi tentu saja semua itu sulit diwujudkan selama kaum muslimin sendiri masih terlalu menonjolkan ego, ketidakperdulian, serta tidak mampu menampilkan diri sebagai komunitas Islam yang baik dan ideal sebagaimana yang dikehendaki oleh agama mereka. Wallahu a’lam.  [Kuala Lumpur, 9 Rabiul Awwal 1431/ 21 Februari 2010/www.hidayatullah.com]
Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia 




 [1] Liu Baojun, Haji Yusuf, A Glance at Chinese Muslims, an Introductive Book, Kuala Lumpur: Malaysian Encyclopedia Research Center Berhad, hlm. 53. Coba bandingkan dengan beberapa perkiraan jumlah Muslim di Cina saat ini yang terdapat di www.wikipedia.org di bawah judul ‘Islam in China.’

[2]
Ibid., hlm. 5-6. Lihat juga Tien Ying Ma, Ibrahim, Perkembangan Islam di Tiongkok (diterjemahkan oleh Joesoef Sou’yb), Jakarta: Bulan Bintang, hlm. 24-27. Tien Ying Ma menyebutkan bahwa interaksi awal ini pada awalnya disebabkan kaisar China pada masa itu, Yong Hui, melibatkan dirinya dalam konflik antara Persia dan kaum Muslimin dengan memberikan bantuan bagi kaisar Persia terguling, Yezdegird, untuk memulihkan kekuasannya. Upaya Yezdegird ini gagal dan ia sendiri pada akhirnya mati terbunuh. Intervensi kekaisaran Cina inilah yang menyebabkan Khalifah Utsman mengirimkan delegasi kepada kaisar Cina sebagai teguran. Dikatakan juga bahwa delegasi pertama yang dikirim ini dipimpin oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

[3] Liu Baojun, ibid., hlm. 6.

[4]
Tien Ying Ma, op.cit., hlm. 31. Agama Nasrani yang masuk ke China pada masa itu adalah dari sekte Nestorian yang memang banyak menyebar ke wilayah Timur.

[5] Showket, Ibrahim, Arab Geography Till the End of the Tenth Century (disertasi), Michigan: University Microfilms International (UMI), 1987, hlm. 61-63.

[6] Liu Baojun, loc.cit., hlm. 6-7. Ibrahim Tien Ying Ma memberikan kutipan peribahasa yang sedikit berbeda tapi dengan maksud yang sama. Ia juga memberikan penjelasan yang cukup detail tentang Saidian Chi serta peranan ahli keuangan Muslim dalam menjaga stabilitas ekonomi Dinasti Yuan. Tien Ying Ma, loc.cit., hlm. 66-87.

[7] Tien Ying Ma, ibid., hlm. 65-66.

[8] Ibid., hlm. 122-135.

[9] Liu Baojun, loc.cit., hlm. 41-42.

[10] Ibid., hlm. 46-50.
[11] Liu Chai Lien, The Arabian Prophet: A Life of Mohammed from Chinese and Arabic Sources (diterjemahkan oleh Isaac Mason), Shanghai: Commercial Press, 1921, hlm. v. Buku ini ditulis oleh Liu Chai Lien dalam beberapa tahap penulisan, yang agaknya disebabkan oleh keterbatasan akses terhadap sumber-sumber biografi Nabi di China, diselesaikan pada tahun 1724, dan baru bisa dicetak 55 tahun kemudian. Edisi ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh Isaac Mason dan diberi pengantar oleh Samuel Zwemer, keduanya merupakan aktivis misionari Kristen ke wilayah Timur dan negeri-negeri Muslim.

  1. Tetap Optimis di Tengah Krisis
  2. Bencana Ini Hanya Musibah atau Azab?
  3. Sederhana, Pilihan Hidup Mulia
  4. Enam Taubatnya Anggota Tubuh
 

Share
|





Ada Tetesan Setelah Tetesan Terakhir

Dokter Sudarmono 08 Oktober jam 18:42 Balas • Laporkan

Ada Tetesan Setelah Tetesan Terakhir


Pasar malam dibuka di sebuah kota. Penduduk menyambutnya dengan gembira. Berbagai macam permainan, stand makanan dan pertunjukan diadakan. Salah satu yang paling istimewa adalah atraksi manusia kuat.

Begitu banyak orang setiap malam menyaksikan unjuk kekuatan otot manusia kuat ini. Manusia kuat ini mampu melengkungkan baja tebal hanya dengan tangan telanjang. Tinjunya dapat menghancurkan batu bata tebal hingga berkeping-keping.

Ia mengalahkan semua pria di kota itu dalam lomba panco. Namun setiap kali menutup pertunjukkannya ia hanya memeras sebuah jeruk dengan genggamannya. Ia memeras jeruk tersebut hingga ke tetes terakhir.

'Hingga tetes terakhir', pikirnya.

Manusia kuat lalu menantang para penonton: "Hadiah yang besar kami sediakan kepada barang siapa yang bisa memeras hingga keluar satu tetes saja air jeruk dari buah jeruk ini!"

Kemudian naiklah seorang lelaki, seorang yang atletis, ke atas panggung. Tangannya kekar. Ia memeras dan memeras... dan menekan sisa jeruk... tapi tak setetespun air jeruk keluar. Sepertinya seluruh isi jeruk itu sudah terperas habis. Ia gagal.
Beberapa pria kuat lainnya turut mencoba, tapi tak ada yang berhasil. Manusia kuat itu tersenyum-senyum sambil berkata : "Aku berikan satu kesempatan terakhir, siapa yang mau mencoba?"

Seorang wanita kurus setengah baya mengacungkan tangan dan meminta agar ia boleh mencoba. "Tentu saja boleh nyonya. Mari naik ke panggung." Walau dibayangi kegelian di hatinya, manusia kuat itu membimbing wanita itu naik ke atas pentas. Beberapa orang tergelak-gelak mengolok-olok wanita itu. Pria kuat lainnya saja gagal meneteskan setetes air dari potongan jeruk itu apalagi ibu kurus tua ini. Itulah yang ada di pikiran penonton.

Wanita itu lalu mengambil jeruk dan menggenggamnya. Semakin banyak penonton yang menertawakannya. Lalu wanita itu mencoba memegang sisa jeruk itu dengan penuh konsentrasi. Ia memegang sebelah pinggirnya, mengarahkan ampas jeruk ke arah tengah, demikian terus ia ulangi dengan sisi jeruk yang lain. Ia terus menekan serta memijit jeruk itu, hingga akhirnya memeras... dan "ting!" setetes air jeruk muncul terperas dan jatuh di atas meja panggung.

Penonton terdiam terperangah. Lalu cemoohan segera berubah menjadi tepuk tangan riuh.

Manusia kuat lalu memeluk wanita kurus itu, katanya, "Nyonya, aku sudah melakukan pertunjukkan semacam ini ratusan kali. Dan, banyak orang pernah mencobanya agar bisa membawa pulang hadiah uang yang aku tawarkan, tapi mereka semua gagal. Hanya Anda satu-satunya yang berhasil memenangkan hadiah itu.

Boleh aku tahu, bagaimana Anda bisa melakukan hal itu?"

"Begini," jawab wanita itu, "Aku adalah seorang janda yang ditinggal mati suamiku. Aku harus bekerja keras untuk mencari nafkah bagi hidup kelima anakku.
Jika engkau memiliki tanggungan beban seperti itu, engkau akan mengetahui bahwa selalu ada tetesan air walau itu di padang gurun sekalipun. Engkau juga akan
mengetahui jalan untuk menemukan tetesan itu. Jika hanya memeras setetes air jeruk dari ampas yang engkau buat, bukanlah hal yang sulit bagiku. Selalu ada tetesan setelah tetesan terakhir. Aku telah ratusan kali mengalami jalan buntu untuk semua masalah serta kebutuhan yang keluargaku perlukan. Namun hingga saat ini aku selalu menerima tetes berkat untuk hidup keluargaku. Aku percaya Tuhanku hidup dan aku percaya tetesan berkat-Nya tidak pernah kering, walau mata jasmaniku melihat semuanya telah kering. Aku punya alasan untuk menerima jalan keluar dari masalahku. Saat aku mencari, aku menerimanya karena ada pribadi yang mengasihiku.”

Bila Anda memiliki alasan yang cukup kuat, Anda akan menemukan jalannya, demikian kata seorang bijak. Seringkali kita tak kuat melakukan sesuatu karena tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menerima hal tersebut.


============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 207-209. ISBN 978-6028-686-402.

Info buku, silakan klik link (tautan) di bawah ini:

http://www.facebook.com/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465
……………………………………………………………………………………………….…
Apabila Bp./ Ibu/ Sdr berminat pesan & dikirimi buku ” Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi” (MKSEP) tersebut, mohon ketik nama dan alamat untuk pengiriman, balas inbox ini atau sms ke 081392911111. (Harga buku Rp 40.000 + biaya pos/ kirim)
=========================================== 


Minggu, 03 Oktober 2010

istana 1000 cermin

Dokter Sudarmono 02 Oktober jam 18:28 Balas • Laporkan
Istana 1000 Cermin



Dahulu kala , jauh desa terpencil, ada tempat yang dikenal sebagai “Istana 1000 Cermin. Seekor anjing kecil yang sedang gembira mengetahui tempat ini dan memutuskan untuk masuk.

Ketika ia tiba, ia melompat dengan gembira menaiki tangga ke pintu rumah. Ia melihat melalui pintu dengan telinganya terangkat tinggi dan menggoyangkan ekornya secepat mungkin. Menakjubkan, ia mendapati dirinya mendapati 1000 anjing kecil lainnya yang bahagia dengan ekor mereka bergoyang-goyang dengan cepat . Dia tersenyum, senyum yang lebar, dan disambut dengan 1000 senyuman lebar yang hangat dan ramah. Ketika ia meninggalkan istana, ia berpikir kepada dirinya sendiri, "Ini adalah tempat paling indah. Aku akan datang kembali dan akan sering mengunjunginya."

Di desa yang sama, seekor anjing kecil lain, yang tidak begitu bahagia sebagaimana yang pertama, memutuskan untuk mengunjungi istana tersebut. Ia perlahan-lahan menaiki tangga dan menundukkan kepalanya rendah, seketika ia memandang ke pintu. Ketika ia melihat 1000 anjing yang tidak ramah sambil menatap ke arahnya, ia menggeram pada mereka dan merasa ngeri ketika melihat 1000 anjing kecil lainnya menggeram ke arahnya. Lalu ia pergi, ia berpikir untuk dirinya sendiri, "Itu adalah tempat yang mengerikan, dan aku tidak akan pernah kembali ke sana lagi."

Semua wajah di dunia adalah cermin. Refleksi macam apa yang Anda lihat di wajah orang yang Anda temui?

============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi, Idea Press, Yogyakarta. Hal. 67. ISBN 978-6028-686-402.

Info buku, silakan klik link (tautan) di bawah ini:

http://www.facebook.com/pages/Mutiara-Kalbu-Sebening-Embun-Pagi/116810518359465
……………………………………………………………………………………………….…
Apabila Bp./ Ibu/ Sdr berminat pesan & dikirimi buku ” Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi” (MKSEP) tersebut, mohon ketik nama dan alamat untuk pengiriman, balas inbox ini atau sms ke 081392911111. (Harga buku Rp 40.000 + biaya pos/ kirim)


Share
|